pertama-tama, saya ingin menunaikan janji saya yang tertunda (meskipun tidak pernah saya sampaikan batas waktunya). tulisan ini adalah seri ke-2 dari rangkaian yang saya mulai. terinspirasi dari buku 'purification of the heart'. sebuah terjemah dan penjelasan oleh Syaikh Hamza Yusuf dari kitab mathharat al-qulub, karya Imam Al-Mawlud.
memang cukup aneh untuk menyandingkan kata santun dan tercela dalam satu frasa yang sama. tapi perilaku santun memang benar ada yang tercela. santun yang secara umum dipandang sebagai sikap yang mulia, dapat mengancam ketika ia justru melemahkan seseorang.
terutama, untuk urusan 'amar ma'ruf, nahi munkar. ketika melihat perilaku kemungkaran yang patut dikecam, terlepas itu dilakukan kerabat atau orang yang berkedudukan, seseorang tetap wajib bersikap tegas. hal ini menjadi keniscayaan jika ia memiliki wawasan keilmuan terkait. tapi jika kecaman itu tertahan karena rasa 'santun' beralasan dunia, lalu bagaimana dengan pertanggung-jawaban dari beban ilmu yang seorang miliki di akhirat nanti?
tidak hanya itu, rasa santun juga bisa menahan seseorang untuk keluar dari ketersesatannya. jangan membayangkan hal ekstrem dulu ketika membaca kata sesat :) sesat disini dalam arti hilang arah. banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, mengurungkan niatnya berilmu terkait fiqh darah atau fiqh jima' hanya karena rasa santun (sungkan lebih awamnya). diam memang sikap yang mulia, tapi diam dalam kebodohan (apalagi terkait ibadah) jelas bukan.
namun patut kita ketahui, salah satu sisi terbaik dari Islam adalah pengajaran tentang rasa santun. santun terhadap orang tua, guru, saudara, sahabat, tetangga, tamu, orang shaleh, kafir, fakir, yatim, janda, lawan jenis, yang telah meninggal, hewan, tumbuhan, bumi, bahkan makhluk ghaib. maka sangat penting untuk membangun rasa santun secara Islami. karena ketika memilih bersikap pun, juga ada adab yang patut dipelajari.
Labels: book, series