<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Jun 5, 2017
terdiam sesaat

sudah lebih dari dua bulan semenjak terakhir kali menulis. pikiran yang kacau dan hati yang belum tenang menjadi penghalang yang tidak pernah bosan berkunjung. lebih dari beberapa kali saya membuka jendela baru untuk menulis, tapi selalu saja berakhir diam, meski nyatanya ada ribuan kata yang mengalir dalam diri saya.

dulu, menulis selalu menjadi hal yang menyenangkan. sekarang? masih menyenangkan. tapi terkadang rasa cemas bisa memudarkan apa yang sebenarnya bisa kita rasakan. tanpa sadar mata telah menjadi lebih sayu, punggung makin membungkuk, hati yang memberat, lidah berubah kelu. hingga banyak kata-kata yang berakhir hanya di pangkal tenggorokan. tertahan, karena habisnya daya untuk berubah.

karena sesingkat apapun sebuah tulisan, akan selalu membawa perubahan bagi penulisnya. membuatnya menjadi lebih tajam, sensitif, dan bijak dalam berpikir dan bereaksi. dan mungkin ini yang selama ini saya hindari, menjadi lebih. saya takut dituntut untuk menjadi lebih oleh diri saya sendiri, lalu menjadi beban tak tertahankan untuk kesekian kali.

lalu dengan menulis lagi sekarang, apa kecemasan itu akhirnya terkalahkan? sama sekali belum. hanya saja, diam juga menjadi tidak kalah melelahkan di titik ini.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia