<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Jun 28, 2016
beda logika

suatu hari saat menunggu adzan ashar di masjid kampus, seorang teman yang sedang suntuk klinik menghampiri saya dengan wajah lelahnya. setelah sedikit basa-basi saling menanyakan kabar (padahal masih cukup sering ketemu), raut mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius.

“mok, gimana ya caranya biar ngga fokus sama urusan dunia? atau biar ngga goyah gitu.”

pertanyaan yang entah datangnya dari mana itu, sama sekali tidak saya antisipasi saat itu. lalu saya ingat, belum lama ini salah satu adik kelas saya juga kurang lebih menyakan hal yang sama. menanyakan bagaimana agar tidak goyah di lingkugan yang semestanya ada di bumi. sementara mereka tau bahwa langit berhak atas diri mereka melebihi urusan apapun.

ketika mereka berusaha mencari bantuan, teman di sekitar mereka justru menyerang dengan logika yang terbalik. bahwa langit, adalah cerminan dari bumi. dan bumi berhak atas diri mereka sebelum urusan langit.

kalau mau diperdebatkan, pasti tidak akan ada akhrinya. soalnya ujung-ujungnya ini perkara pilihan. mana logika yang mau dipakai, ya konsekuensi pengendara. salah benar bukan hak manusia untuk menilai. yang penting, jangan lupa jadi orang baik.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia