<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Jan 9, 2018
benar benar

tidak selamanya jawaban dari setiap perdebatan terdiri dari benar salah. bisa saja keduanya benar, bisa juga sama-sama salah. dan tidak ada aturan yang menjamin atau mengharuskan bahwa yang salah harus mengalah. justru banyak orang bijak bilang; meskipun merasa benar, akan lebih baik jika mengalah daripada saling sanggah. tapi tetap saja, yang mengalah terlebih dulu juga belum tentu lebih benar.

manusia terus sibuk memilah mana yang benar dan salah. bahkan untuk hal terkecil sekalipun. lingkungan yang berbeda memberikan penilaian yang tidak sama. belum lagi jika ego menghalangi terbukanya pikiran. sehingga hampir mustahil suatu perkara ditafsirkan dengan serupa oleh dua kepala yang berbeda.

memang lebih mudah, menemukan kesalahan orang lain daripada mengakui kekhilafan pribadi. bertoleransi pada diri sendiri, tapi tidak pada orang lain. karena sedikit banyak, seseorang mudah sekali merasa ‘lebih’ dibanding orang lain. menjadikannya bias dalam menerima sebuah pemikiran asing.

tiap dari kaum kita perlu belajar, untuk menempatkan pijakan pada anak tangga yang sama dengan siapapun yang sedang melempar pembicaraan. untuk tidak menganggap sepele dan merasa lebih tahu. meskipun tidak akan pernah semudah itu untuk belajar.

karena tidak selamanya kedua pihak benar salah, bisa jadi benar benar atau bahkan salah salah.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia