saya ini sebenarnya termasuk kaum plin-plan. yang lebar kerudungnya masih tidak konsisten karena keterbatasan stok, hahahah. selama masih menutup dada dan modelnya sederhana, saya bukan tipe yang
ngoyo pakai jilbab lebar. apalagi kalau jilbab lebar yang tersedia sudah kotor, ya masak dipakai terus.
saya sadar kalau jilbab memiliki peran dalam berkehidupan sosial. mau tidak mau, pemakainya pasti akan dinilai secara sepihak, khususnya tentang pemahaman agama. tapi saya yakin kalau 'nilai' dari panjangnya sebuah jilbab tidak akan bisa dipahami selain
oleh si pemakai. karena niat yang diteguhkan dalam menyempurnakan tertutupnya aurat
tidak mungkin juga diumumkan ke orang lain.
jilbab
adalah sebuah tanggung jawab. ah salah, menjadi seorang muslimah itu
sendiri adalah sebuah tanggung jawab. jadi menyempurnakan jilbab memang
sebuah keharusan. meskipun memang belum semua orang mampu istiqomah
dalam berusaha (termasuk saya).
berhubung dari dulu sudah begini persepsi dan kondisinya, satu-satunya jalan adalah berbenah. jika belum merasa cukup baik dibandingkan dengan lebar jilbabnya, segera perbaiki diri. jika jilbabnya belum cukup lebar dibandingkan anjurannya, segera mulai dilebarkan. jangan berbetah-betah jadi kaum plin-plan, ya imra?
Labels: faith