<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Sep 10, 2016
kaum plin-plan

saya ini sebenarnya termasuk kaum plin-plan. yang lebar kerudungnya masih tidak konsisten karena keterbatasan stok, hahahah. selama masih menutup dada dan modelnya sederhana, saya bukan tipe yang ngoyo pakai jilbab lebar. apalagi kalau jilbab lebar yang tersedia sudah kotor, ya masak dipakai terus.

saya sadar kalau jilbab memiliki peran dalam berkehidupan sosial. mau tidak mau, pemakainya pasti akan dinilai secara sepihak, khususnya tentang pemahaman agama. tapi saya yakin kalau 'nilai' dari panjangnya sebuah jilbab tidak akan bisa dipahami selain oleh si pemakai. karena niat yang diteguhkan dalam menyempurnakan tertutupnya aurat tidak mungkin juga diumumkan ke orang lain.

jilbab adalah sebuah tanggung jawab. ah salah, menjadi seorang muslimah itu sendiri adalah sebuah tanggung jawab. jadi menyempurnakan jilbab memang sebuah keharusan. meskipun memang belum semua orang mampu istiqomah dalam berusaha (termasuk saya).

berhubung dari dulu sudah begini persepsi dan kondisinya, satu-satunya jalan adalah berbenah. jika belum merasa cukup baik dibandingkan dengan lebar jilbabnya, segera perbaiki diri. jika jilbabnya belum cukup lebar dibandingkan anjurannya, segera mulai dilebarkan. jangan berbetah-betah jadi kaum plin-plan, ya imra?

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia