<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Mar 14, 2016
jiwa

seperti yang dituliskan di banyak ayat-ayat suci, jiwa manusia adalah bagian yang begitu rapuh dan rumit. setiap ruangnya berupa lorong-lorong panjang berkelok dan di tiap sudutnya terdapat pintu baru menuju jawaban yang tidak seorangpun, bahkan pemilik jiwa itu, mampu menebak artinya.

terkadang, sang pemilik mulai tersesat di dalam lorongnya sendiri. kebingungan karena membuka terlalu banyak pintu. ingin berusaha kembali, namun labirin itu sudah hampir mustahil untuk dipecahkan sendiri.

pada akhirnya sang pemilik memilih untuk tak berhenti. terus berusaha menciptakan banyak pintu baru di jiwanya yang penuh sesak. hingga ilusi menjadi pelarian termudah untuk menyembunyikan rasa lelah yang tidak ada penawarnya.

pemilik jiwa itu lupa, bahwa tidak seorangpun berhak menuntutnya. ia terjebak di dalam jiwanya yang kelelahan. dan hanya dirinya sendiri yang berpikir, bahwa ia tidak berhak untuk bermukim di salah satu lorongnya.

beristirahatlah. yaitu dengan membangun sebuah perapian kecil di sudut jiwamu dan mulai menyambut uluran tangan orang lain.

karena sekali lagi, bagaimanapun, jiwa manusia terlalu rumit untuk diuraikan sendiri.

-- tulisan ini terinspirasi dari drama psikiatri [dr. rintaro] ^^

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia