karena belakangan ini saya sudah jarang ikut kegiatan ekstra kampus, saya jadi susah move on dari satu tempat yang sempat saya kunjungi beberapa hari lalu setelah sekian lama tidak 'menjelajahi' dunia. nama tempatnya rudenim: rumah detensi imigran, milik dirjen imigrasi kemenkumham.
kok bisa saya pergi kesana? terus saya ngapain disana? simpelnya, saya dimintai tolong rumah zakat, sebagai lembaga sosial yang berkerjasama dengan iom, buat ngasih materi tentang dhe. sebenernya mereka mau cari dokter gigi 'asli', tapi karena salah satu syaratnya lancar berbahasa inggris, jadi yasudah, saya yang bahkan belum koass ini yang malah jadi pembicara --"
kesan pertama waktu menginjakkan kaki disana adalah.... bingung. sebelumnya saya sudah tau kalau saya akan berbicara di depan para imigran. tapi saya baru tau, kalau rudenim ini bentuknya seperti penjara; bertembok tinggi dengan balutan kawat tajam, dan sel-sel kecil berjeruji. selain itu, saya juga baru tau kalau tempat yang saya kunjungi ini hanya berisikan imigran laki-laki.... lengkap sudah kelinglungan saya. untungnya, ada nayu dan mbak cus yang menemani saya.
mayoritas dari para imigran ini dari afghanistan, muslim, dan masih muda. mereka mencari suaka ke indonesia setelah daerah asalnya menjadi daerah konflik perang. selama berminggu-minggu mereka melewati samudera hanya untuk terhenti di kantor imigrasi. mereka dipisahkan dengan keluarga mereka, dikumpulkan, dan ditahan di tempat itu. ada banyak hal memilukan yang bisa saya ceritakan, sangat banyak. tapi saya lebih ingin menyimpan kenangan 'indah' saya disini :""
perbedaan budaya adalah satu hal yang tidak pernah gagal membuat saya terkesan. saya belajar tentang kepercayaan diri, bagaimana mereka saling menghormati, berusaha mengapresiasi segala usaha kecil, bahkan tentang bagaimana mereka beragama. hanya dengan dua jam yang begitu singkat, mereka berhasil membuat saya makin sadar; meskipun kami sebelumnya tidak saling mengenal, tidak terlahir di negara yang sama, tidak berbicara bahasa yang sama; itu tidak bisa dijadikan alasan bagi saya untuk tidak peduli.
setelah begitu banyak hal yang mereka ajarkan kepada saya, yang paling menyedihkan adalah untuk saat ini, saya hanya bisa berdo'a. untuk saudara-saudaraku disana, bersabarlah. semoga kalian terus dilimpahi kesabaran, hingga nanti pada saat yang tepat Allah akan menjawab do'a kalian. semoga secepatnya kalian bisa keluar dari jeruji itu, bertemu dengan keluarga, dan menjalani hidup ini dengan lebih bermakna. dan semoga, seluruh saudara muslim kita yang mungkin mengalami hal yang sama diberi kemudahan.
dan jika diperkenankan, semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hati yang lebih damai ^^
Labels: life, past