<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://draft.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Jun 25, 2014
mekanisme pembelaan ego

sekarang, saya (mungkin) mengalami apa yang disebut dengan mekanisme pembelaan ego. dimana hal itu dikarenakan saya yang tidak mampu menyesuaikan diri secara “sehat” terhadap beban yang ada disekeliling maupun dari diri saya sendiri. bukan, bukan berarti saya hidup menderita. saya sadar betul bahwa Tuhan masih sangat mengasihi saya. dan saya juga sadar betul bahwa keluarga dan teman-teman saya sudah sangat mempedulikan saya lebih dari seharusnya.

ketika belajar psikiatri kemarin, saya seperti sedang membaca diri saya sendiri. bukan tentang materi napza atau gangguan psikotik pastinya -_- saya mendapati integritas diri saya terancam. idealisme yang selama ini tidak pernah saya bela, tiba-tiba muncul bak banjir bandang. sayapun “lari”. saya takut menjadi apa yang tidak saya inginkan dan melakukan apa yang tidak saya kehendaki. saya mulai memutar segala rasionalitas pikiran saya, kemudian mendistorsikan segala pengalaman yang saya alami, sampai akhirnya saya berakhir dengan kesimpulan yang menipu diri saya sendiri.

mereka bilang ini bukan saya. bukan, ini memang bukan saya. ini adalah dia yang saya ciptakan untuk melindungi saya. menurut teori, mekanisme pembelaan ego muncul karena ingin menghilangkan rasa sakit, meminimalkan rasa malu, dan mempertahankan harga diri. tapi saya sendiri yang memilih untuk menanggung semuanya dari awal. dan rupanya, mpe-saya cukup membaja. sekarang saya bahkan tidak merasakan rasa sakit, rasa malu, apalagi kehilangan harga diri. dan sepertinya, kalau sesuai teori (lagi), insight saya ini derajatnya mungkin di “intelektual”, tau sedang sakit, dan tau penyebabnya. saya jadi berandai-andai, jika saya tidak pernah menulis disini, derajat insight saya bisa-bisa malah “total denial” atau “ambivalensi” mungkin ya u.u naudzubillaah

sekarang saya sedang menata ulang semuanya. sangat lambat memang, tapi saya yakin berprogress. tenang kawan, saya tidak pernah meninggalkan kalian, dan jangan sekali-kali berpikir kalau kalian yang meninggalkan saya. saya hanya sedang mengambil rute memutar, sedangkan kalian mengambil rute tercepat. semoga saya bisa segera menyusul kalian :”)
jiwa manusia itu bak kelopak bunga mawar. yang lepas dari mahkotanya. dibawa tiupan angin entah kemana. siapa yang bisa mengira ia ingin beristirahat sejenak. di heningnya aliran sungai. tanpa tau akan dibawa kemana. demi memulai perjalanan panjang lainnya. mungkin hanya Tuhan yang tau. bahkan kelopak bunga mawar itupun tak berhak untuk tau.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia