setelah menikah, pelajaran paling berharga yang kembali diajarkan kepada saya adalah syukur dan sabar. bukan berarti sebelumnya saya belum pandai bersyukur maupun bersabar. tapi bagaimana kita harus memulainya tanpa alasan dan belajar menerima dengan lapang.
manusia hanya terlalu mudah untuk kecewa. terlalu berharap pada manusia lain yang sama-sama tidak sempurnanya. ingin merasa dibahagiakan sebelum membahagiakan. hingga ego yang menghambatnya menjadi sosok penuh syukur.
setelah direnungi baik-baik, menjadi sosok yang 'menerima' tidak dimulai ketika ia pandai bersabar terhadap orang lain. tapi ketika seseorang bersyukur dengan baik dan buruk yang ia miliki. dengan bersyukur, kita menjadi sadar atas kemudahan dan keberkahan yang selama ini kita terima. sehingga membuatnya enggan menuntut dan tak perlu bersabar.
ibarat koin, syukur dan sabar berada di satu sisi yang sama. sedangkan rasa kesal dan kecewa ada di baliknya. jadi tiap kali kita merasa kecewa, jangan jadikan orang lain sebagai alasan. sangat mungkin diri kita sendiri yang kurang bersyukur maupun bersabar. bukan begitu?