<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Aug 21, 2017
menjadi sama

apa yang membuat seseorang dinilai wajar? berpenampilan konvensional, berperilaku lazim, tipikal, umum, lumrah, menjadikannya manusia yang jamak, galib, atau tidak berbeda?

bahkan dalam hal beragama, sering kali kita dianjurkan untuk 'melihat' sekitar terlebih dulu. tidak jarang dari mereka yang semata-mata menjalankan urusan pribadinya dengan Tuhan dianggap tidak mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan bersama.

semua kalangan dipukul rata, harus mengambil jalan tengah. boleh berbeda, tapi jangan terlalu berbeda. sebenarnya itu bukan masalah, asalkan pernyataan itu bukan kedok yang digunakan hanya untuk menyuarakan kebencian personal.

sebut aja ada si fulan. doi mengklaim dirinya sendiri sebagai kaum agamis yang nasionalis. fulan ini selalu berat ekor setiap kali melihat, sebut saja fulano, sibuk bicara agama. fulan selalu mengkritik fulano intoleran di tengah masyarakat majemuk.

tapi ajaibnya, fulan tidak pernah mengecam mereka yang bahkan tidak terjamah agama. yang hidup tanpa aturan dan bangga karena merasa menjadi diri mereka sendiri. fulan seharusnya tau betul, bahwa mereka justru sedang tenggelam dalam kebodohan.

lantas kenapa fulan hanya diam? kenapa menjadi 'normal' dan toleran hanya menjadi kewajiban bagi kalangan tertentu?

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia