selain demi kewajiban untuk membaktikan diri pada orang tua, ada satu alasan lain kenapa saya harus pulang ke rumah paling tidak dua kali dalam sebulan. filo dan akhtar.
rutinitas yang saya lakukan selama di rumah pun pada akhirnya banyak berputar di dua anak ini. mulai dari bangun pagi, makan tiga kali sehari, mandi pagi sore, tidur siang, jalan-jalan + ngobrol santai, belajar calistung + mengaji, nonton kartun sambil bernyanyi, sampai role playing segala macam pahlawan super. semua momen yang saya lewatnya selama berada di kota seberang, harus saya bayar dalam satu hingga dua malam.
jujur saja, saya sebenarnya tidak selalu ingin, apalagi kalau sedang capek atau sudah memiliki berbagai agenda tersendiri. tapi semakin lama saya menghabiskan waktu dengan mereka, semakin saya paham bahwa ada begitu banyak hal yang harus saya pelajari. dan belajar menjadi lebih bijak adalah yang paling sulit.
kapan harus bersikap keras, kapan harus bersikap lunak. kapan harus berhenti membela, kapan harus berhenti menuntut.
ego sebagai seseorang yang lebih dewasa terkadang merabunkan pandangan kita terhadap mana pilihan yang lebih tepat bagi seorang anak kecil. pengalaman masa lalu tanpa sadar menjadi bayang-bayang pada saat yang tidak semestinya. dan hanya karena idealisme kosong, kita sering melakukan pembenar-salahan secara sepihak.
begitu banyak ‘sesi latihan’ yang saya jalani masih saja belum bisa menjadikan saya mahir dalam memahami apa yang baik bagi mereka. mungkin setidaknya, saya mulai mengerti bahwa anak kecil bukan sekedar objek yang dengan mudahnya dibentuk oleh arahan, tapi tiap dari mereka adalah individu yang layak dan mampu diajak berpikir.
hmm, rumit ya?
Labels: life