<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Sep 12, 2016
tinggi hati

pernah dengar kisah khalifah umar yang memberhentikan panglima perang terbaiknya (khalid bin walid) hanya karena beliau ingin memelihara hati saudaranya itu dari rasa sombong?

yaa, manusia memang ahlinya meremehkan. buktinya, saya berani menggunakan kata 'hanya karena' pada pertanyaan di atas, meskipun saya tau rasa sombong seberat debu dalam hati dapat mengantarkan seorang muslim ke dalam neraka. jadi kekhawatiran khalifah umar sebenarnya sudah sangat beralasan.

merasa lebih berilmu, lebih beretika, lebih mampu, lebih prestatif, lebih beragama, lebih berpengalaman. meski kenyataan menunjukkan memang benar iya, tapi tetap saja pikiran-pikiran itu hanya akan membuat hati manusia semakin berpenyakit. membuat seseorang menjadi begitu mudah merendahkan orang lain padahal yang dilihat baru satu sisi kecil.

jangankan seberat debu, jaman sekarang punya berkilo-kilo rasa sombong pun sudah bukan perkara besar. memang mulut kita belum berucap, tapi tanpa kita sadari, hati kita sering berkoar lantang meninggikan diri. hati ini ibarat tidak punya rem. lihat sesuatu yang tidak sesuai sedikit, rasanya sudah gatal sekali ingin berkomentar (meskipun dalam hati).

solusi paling praktis sebenarnya cukup simpel, tapi sangat sulit diterapkan. jauhkan diri dari media sosial. terutama yang tanpa diinginkan bisa mengekspos kehidupan orang lain. hindarkan diri untuk terlibat urusan pribadi orang lain. berhenti membiasakan diri untuk menilai benar salah dari apa yang bukan kewajiban kita.

ini berbahaya, tapi sayangnya kita sudah terbiasa. Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia