paling tidak setiap dua minggu sekali saya selalu menyempatkan pulang ke rumah. dan dikarenakan berbagai alasan, saya selalu memilih pulang dengan bis, meskipun durasi perjalanan bisa jadi dua kali lipat lebih lama karena akses ke terminal dari kos yang relatif rumit.
salah satu alasan saya bertahan dengan bis mungkin karena apa yang saya panggil dengan ‘pulang ke rumah’ sudah bukan hanya tentang bertemu keluarga, tapi juga menemui ‘mereka’ yang selalu menyapa saya di perjalanan.
saya memang punya kebiasaan melamunkan pikiran saya ke jendela saat perjalanan; bis yang berjalan lebih lambat dibanding kereta api jelas jadi tempat yang lebih ideal. potongan-potongan cerita yang saya mainkan dalam kepala saya sedikit demi sedikit mulai tertinggal di rute perjalanan pulang.
pohon-pohon rindang di sepanjang tol, masjid-masjid transit penghias dunia, truk-truk yang meramaikan jalanan, langit biru senja penuh melankoli, kawanan burung yang sesekali lewat, dan hamparan ladang yang menyejukkan. mereka adalah pendengar setia dari kekhawatiran saya. hingga tanpa disadari, saya mulai mempertanyakan kabar mereka saat sudah lama tidak pulang.
apa pohon-pohon itu sudah mulai tumbuh lebih tinggi. apa ladang itu sudah melewati masa panennya dengan baik-baik saja. apa sungai itu masih saja kekeringan. apa masjid itu bisa selamat dari luapan lumpur. apa rumah itu akhirnya menyerahkan nasibnya untuk tergusur.
perjalanan yang mungkin terdengar membosankan ini, telah menjadi salah satu tempat bagi saya untuk mengistirahatkan hati. menemui mereka yang tidak pernah saya temui selama melewati hari-hari di perkotaan. bisa dibilang, perjalanan itu telah menjadi bagian penting dari hidup saya.
dan sepertinya, saya masih harus terus menemui mereka untuk waktu yang lama.
Labels: life