<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Dec 14, 2015
seperti bunga

saya ini punya sedikit 'cinta terpendam' sama bunga. itu juga yang jadi alasan, kenapa lebih dari setengah baju-baju saya selalu bermotif bunga (alasan random, maaf). sampai pernah setelah lama ngga ketemu sama si ela, kata-kata pertama yang muncul dari dia adalah "imok pancet ae kembang-kembang" sambil ngejiwit pipi saya -_-

mungkin secara tidak sadar, saya ingin dilihat seperti bunga, atau saya sedikit banyak memandang diri saya sebagai bunga. bukan masalah cantiknya atau harumnya. malahan, nilai kata 'bunga' sepertinya sudah mulai bergeser ke pandangan negatif setelah terlalu sering dipakai jadi inisial di berita kriminal u.u tapi, bukankah Ali ibn Abi Thalib sendiri pernah menganjurkan kita untuk berpikir layaknya bunga? :"

"jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah menghancurkannya."

intinya, terus bermanfaat bagi sesama tanpa memandang siapapun mereka adalah sebuah kebaikan. disisi lain, banyak juga bunga yang beracun atau berduri. kalau orang-orang sering mengibaratkan dalam sosok manusia, 'tampilannya rupawan dan baik-baik, tapi tersembunyi sifat buruk dibaliknya'.... yang berbeda bagi saya.... bunga, tidak pernah berusaha menyembunyikan duri atau racunnya, tapi juga tidak menyebarkan 'aibnya' begitu saja. orang lain berhak menilainya sebagai bunga yang indah dan menenangkan hati, atau bunga yang memiliki duri di tubuhnya.

manusia (jaman sekarang) ini tidak ada yang sempurna (termasuk saya). selalu ada baik dan buruknya. semisal ada banyak orang yang memandang saya perempuan baik, itu bukan karena upaya pencitraan atau apapun yang saya lakukan, tapi karena Allah lah yang menutupi aib-aib saya, layaknya Allah yang menjadikan hortensia dikenal karena keindahannya, bukan racunnya. begitu pula sebaliknya.

jadi bisa dibilang, manusia sedikit banyak memang punya kesamaan dengan bunga. dan sepertinya juga harus belajar banyak dari bunga XD

bonus: saya dengan para kesayangan :3

Labels: ,




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia