ibu saya adalah orang terakhir yang menikah diantara 12 bersaudara. jadi bisa dibilang, salah satu yang paling ragil diantara seperpupuan (bener gak sih nyebutnya gitu?) adalah saya :3 mayoritas kakak sepupu saya sudah menikah dan perempuan, jadi fix lah posisi saya sebagai tante muda (tapi gak ada yg manggil tante -..-) bagi puluhan ponakan saya.
nah, saya dan sepupu2 saya itu punya grup whatsapp yang ngga pernah sepi. sebagian banyak diskusinya ya tentang rumah tangga dan cara membesarkan anak. bahkan ada kakak saya yang suka personal chat buat tanya2 tentang gimana pandangan saya terhadap cara mendidik yang saya terima semasa kecil. jadi walaupun sekarang saya belum punya anak, sedikit banyak saya jadi rutin mikir ke arah sana juga u.u
semua anak terlahir berbeda. sebenernya satu konsep itu sudah lebih dari cukup buat menjelaskan lebihnya. cara mendidik anak itu ngga ada yang fix benar, tapi jelas kalau salah (misal: menyalahi Al-Qur'an). saya jujur, berprinsip kalau tuntutan dan tekanan itu penting. hanya saja bagaimana orang tua pintar2 membalutnya dengan kasih sayang + ajaran agama.
mereka mungkin berbeda, tapi saya yakin anak bukanlah sosok yang lemah, mereka hanya lebih sensitif. saya dari kelas 1 SD, selalu rajin nulis diari + kesan yang saya dapat dari temen2 saya. dan waktu saya baca lagi, saya jadi paham kalau hal2 buruk yang dulu menimpa saya adalah hal yang membentuk karakter diri saya sekarang. tapi ada satu hal yang ngga penah berubah: cara saya memperlakukan orang lain.
memang sih, siapa yang ngga berang kalau anaknya diusik atau digosipin. tapi asalkan dalam batas wajar, saya rasa ngga masalah. setiap anak pasti bisa menangani masalahnya dengan caranya sendiri. karena kadang, ketika anak ada sedikit masalah, orang tua berusaha menyelesaikan dengan caranya yang justru ngga sesuai.
jadi, dari pada sibuk membela kekurangan anak, sibukkan saja anak dengan kegiatan baik untuk orang lain. menyayangi mereka sebagai sosok mandiri yang utuh. jika anak terus diposisikan sebagai orang yang bertanggung jawab, pada suatu titik mereka pasti paham kapan mereka harus bergerak lebih jauh untuk kebaikan dirinya sendiri.
Labels: life