sekitar 1 bulan-an ini, banyak sekali dari kita yang terkena sindrom pemilu presiden. i stand on the right side lah, garuda didadaku indONEsia lah, dan bahkan ada yang pingin kita beralih ke sistem pemerintahan khilafah. saya jujur, merasa belum cukup bijak untuk mengomentari salah satu pilihan dari ketiga hal tersebut secara terbuka (di depan umum). saya takut, saya yang pengetahuannya masih rendah ini, yang belum bisa membedakan mana yang benar-benar hitam dan mana yang putih ini, hanya akan melontarkan atau menuliskan argumen yang tidak berdasar.
sayangnya, banyak sekali teman-teman yang mungkin “terlalu” bersemangat menyampaikan argumennya. argumen mereka memang dirumuskan di otak, tapi tidak disampaikan lewat hati. tulisan mereka yang mungkin memang merupakan fakta, tapi karena disampaikan dengan tidak terhormat, malah akhirnya membuat orang lain enggan untuk menjadi percaya. kedua capres-cawapres ini seolah-olah tidak ada satupun sisi baiknya.
bukannya melarang untuk berkomentar, tapi semakin kita ber-su’udzon, semakin dekat pula kita dengan perilaku fitnah. alangkah meruginya kita kalau harus menanggung dosa akibat dukungan berlebih di pilpres ini, padahal sekarang adalah momen penting menyambut bulan ramadhan. memilih di pilpres itu wajib, mengajak orang lain untuk menggunakan hak suaranya nanti juga perilaku yang baik. tapi berperilaku tidak “syar’i” hanya karena pilpres, kan ya sayang... hidup ini tidak pernah hanya tentang dunia, tapi juga akhirat.
siapapun yang anda pilih, dan siapapun yang saya pilih, biarlah ini jadi urusan kita masing-masing. yang penting, kita harus selalu ikut mendo'akan kebaikan untuk bangsa ini, memilih dengan hati, dan mengawal pemilu presiden agar berjalan dengan jujur dan adil. yasudah, selamat berpesta demokrasi bagi seluruh warga indonesia. selamat memilih.
Labels: Indonesiaku