<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/516551536964885590?origin\x3dhttp://imraafa.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

hi, call me imra/imok. 24. i'm a/an: ENFP, muslimah, wife, proud indonesian, dentist (wannabe), parents-complex daughter, and part-timer otaku.

this daily journal is basically a small window of my life. i write about everything, whether it's important or not. sometimes, it's not even serious. so don't expect too much from this blog. don't try to judge me based on my writings, because i'm much more complicated than you could imagine. and i never mean to hurt anyone by my words, so pardon me if somehow i offended you. last but not least, i've been writing here for more than 5 years, people changes, so do i. thanks, happy reading.
Dec 1, 2013
mbak dok

sedih, sakit hati, marah, waktu lihat berita di tv yang cenderung memojokkan dokter. banyak juga yang komentar di social media seolah-olah mereka paham apa yang kami rasakan. padahal banyak cerita dokter yang ngga pernah di bahas oleh publik. gaji yang dibawah umr, bahkan banyak perawat di puskesmas yang digaji hanya 500rb perbulan, padahal kerjanya full time tanpa libur selama 30 hari.

kenapa bisa dibawah umr? gaji kami banyak dipotong demi bisa membeli obat untuk pasien miskin. klaim biaya per orang untuk obat sekaligus pemeriksaan dari pemerintah besarnya cuma 2500 rupiah per pasien. bayangkan, bisa beli obat apa dengan harga segitu? untuk menutup biaya beli obat, dari mana kalau tidak dari upah kami yang harus direlakan. tapi kami tidak pernah menuntut naik gaji kan?

lalu kenapa kemarin hampir seluruh kolegium dokter demo? karena kami tidak ingin, kasus dokter ayu di manado kemarin jadi pakem di masyarakat. pasien datang kondisi kritis, klinik shinse sehebat apapun gak akan ada yang mau terima, cuma kami yang mau.

kami ngga akan demo jika itu memang malapraktik. tapi kasus ini beda, obat dan prosedur sudah dijalankan. pasien datang dalam kondisi gawat janin. untuk mendeteksi emboli pada ibu, butuh pemeriksaan berjam-jam yang pasti akan membunuh bayinya. mendeteksi emboli sama halnya dengan mendeteksi kapan tsunami akan datang, gak akan ada yang tau.

semua mempermasalahkan dokter yang mogok. padahal selama ini ngga ada satupun stasiun tv yang menyorot kerja ugd selama 24 jam tanpa henti dan gimana semua pasien kritis tertangani. tapi siapa yang peduli, bagi mereka kami yang selalu salah.

maaf, kalau terkesan mengeluh. aku ngga terlalu peduli apa kata tv, tapi bagiku yang penting kalian, keluargaku, tau pengorbanan dan beban sebesar apa yang sedang aku pikul. jadi dokter itu ngga mudah, sumpahku atas nama Allah. banyak orang yang menggantungkan diri ke dokter, padahal bukan aku yang berkuasa atas hidup dan matinya.

bahkan mungkin aku ngga bisa menjaga kalian sebaik aku menjaga pasienku.

- dr. Maria Nisaul Arif

sampai saat ini, selama lebih dari 20 tahun, ngga pernah sedetikpun aku meragukan satupun diantara keluarga kita mbak. apapun kata orang dan siapapun yang bicara. kalian adalah orang-orang pertama yang akan aku bela mati-matian.

Labels:




Newer >
< Older




IMRA(c)
-indonesia